Definite

contact

Dev and Design · Featured · UX · What We Do

5 Hal yang Wajib Ada dalam User Persona Template

Written by Rinaldy Sofwan, 23 February 2021

User persona template adalah salah satu tool yang bisa bantu Anda mendesain user experience dengan lebih cepat. Mau tahu apa aja yang wajib ada di dalamnya? Ini dia!

“Lo Taurus ya? Keras kepala banget deh.” Kata-kata semacam itu mungkin sudah akrab di telinga Anda. Kita emang suka banget mengelompokkan orang-orang berdasarkan karakteristik umum kayak gitu karena itu bisa nyederhanain pemahaman kita akan sesuatu yang kompleks, mulai dari kategorisasi tools berdasarkan fungsi, produk berdasarkan jenis, hingga kepribadian orang berdasarkan zodiak.

Walau kami nggak membenarkan stereotyping, terutama yang berbau SARA (ew this is 2021 btw), pengelompokan kepribadian ternyata bisa berguna lho ketika didukung data yang valid, seperti dalam pembuatan user persona. Dengan ini, kita jadi bisa mendapatkan gambaran tentang target audiens, memahami mereka, dan membuat desain serta services yang actually berguna buat mereka. Kenapa hal-hal itu penting? Karena berdasarkan riset 2020 lalu, terbukti kalau setiap satu dolar yang Anda investasikan dalam user experience itu bisa menghasilkan $100 (ROI = 9,900%). Wow, cuan sekali!

Kami udah bahas tuntas apa itu user persona dan apa perannya dalam pengembangan produk Anda di artikel sebelumnya. So feel free buat buka di tab baru sebelum lanjut baca ya kalau belum familiar. Tapi TL;DR, user persona itu adalah semacam profil karakter “fiktif” yang kita ciptakan berdasarkan karakteristik kelompok users yang jadi target kita. Misalnya, instead of ngebayangin seluruh generasi millenial, Anda cuma perlu memikirkan seorang tokoh yang bisa ngewakilin mayoritas audiens. 

Profil ini berisi banyak hal yang mencerminkan kepribadian tokoh “fiktif” yang kita ciptakan. Bayangkan aja ini kayak kita bikin profil alter ego di media sosial deh, hanya aja kepribadian yang kita cerminkan ini berdasarkan user research supaya valid dan representatif. Nah, biar kerja jadi lebih efisien, baiknya kita punya user persona template yang bisa langsung di-grab kapan saja dibutuhkan. Dengan begitu, kita nggak perlu lagi mikirin apa aja yang harus ada dalam profil ini dan bisa langsung implementasi hasil riset saat itu juga. Salah satu contohnya seperti ini:

Salah satu contoh user persona template yang selalu bisa digunakan at any time.
Image Source

Tentunya isi dari template ini akan berbeda-beda bahkan untuk setiap orang atau tim, mulai dari yang sederhana banget sampai yang berisi banyak data. Tapi apa aja sih hal-hal yang wajib ada dalam user persona template versi Definite? Untuk itu, kita tanya UX Designer andalan kita yuk, Mz Anthony Atmadja! Berikut lima hal yang paling penting menurut Mz Anthony:

  • Basic Information

Yang satu ini kami rasa semua orang wajib menyertakan dalam template-nya. Basic information dalam konteks ini berupa hal-hal yang menggambarkan demografi target users kita. Contohnya adalah nama, usia, pekerjaan, lokasi, pendidikan, status keluarga, dan lain-lain. Hal ini dianggap basic karena nggak bisa membuat kita sampai mengenal si persona in a deeper level

Umpamanya begini, dengan melihat KTP saja kita nggak tiba-tiba kenal akrab dengan seseorang kan? Kalau gitu kasusnya, semua resepsionis kantor mitra bisnis yang Anda kunjungi hingga satpam komplek sahabat Anda bisa mengkategorikan Anda sebagai sahabat dong, he he he. 

Basic information itu yang paling dibutuhkan dalam membuat user persona, soalnya kita jadi bisa mengkira-kira target demografis kita tuh kayak gimana. Dari situ kita bisa mengklasifikasikan atau mengkategorisasikan users kita untuk dikelompokkan ke kluster yang lebih kecil agar tujuan dari user persona bisa lebih detail atau mengerucut ke objective,” kata Anthony.

Artinya, semakin detail informasi dasar yang kita sertakan, semakin akurat dan representatif juga user persona yang bisa kita buat. So be sure to do an in-depth user research ya! Kalau template-nya sudah mendetail, ya isinya pun juga harus dong.

  • Picture

Pernah bingung nggak karena dapat mention sok kenal di Twitter dari akun dengan profile picture telur dan username yang nggak jelas? Mungkin dia memang kenal kita, tapi kita nggak tahu mereka siapa karena profilnya nggak mewakili identitas. Seperti yang kami singgung sebelumnya, user persona ini bisa dibilang mirip dengan profil media sosial. Jadi jangan sampai nggak menyertakan gambar, yes

Tentunya foto ini nggak bisa asal kita comot dari stock photos, tapi harus mewakili kepribadiannya. Kalau pakai perumpamaan KTP lagi, kita nggak bisa lihat kepribadian seseorang cuma lewat pas foto generic yang ada di kartu identitas orang. Beda kasusnya dengan Tinder, di mana kita bisa membayangkan kepribadian user lewat profile picture-nya (walau 90% pasti cuma pencitraan demi percintaan).

Jadi, langkah pertamanya adalah sediakan kolom foto dalam user persona template Anda. Lalu ketika udah saatnya mengisi, ingat untuk pakai foto yang representatif dan sesuai dengan data kepribadian users berdasarkan riset Anda. 

“Picture itu biasa digunakan untuk merepresentasikan dari user persona kita agar kita ada gambaran how do they look like, what do they usually wear, kira-kira gadget apa yang dipakai mereka, dan lain-lain,” kata Anthony.

  • Personality

Nah, karena kita bisa membayangkan kepribadian pengguna Tinder hanya lewat profile picture, pasti ada kalanya Anda langsung swipe left tanpa melihat deskripsi profilnya. Padahal bisa jadi salah satu di antara mereka yang jadi korban swipe left tanpa pikir panjang itu baik hati, rajin menabung, nggak sombong, dan soulmate Anda yang sesungguhnya. Mungkin kebetulan aja dia nggak pandai selfie atau teknik fotografinya kurang oke. 🙂

Impresi kita terhadap suatu gambar memang relatif dan rentan bias. Karena itu, walaupun kita udah punya kolom picture dalam user persona template, tetap perlu deskripsi lebih lanjut untuk menggambarkan personality yang dimaksud. 

“Di sini kita bisa menentukan habit dari orang itu apa, unique insights apa aja yang bisa menjadikan orang ini sebagai indikator user persona. Kita juga harus membuat sebuah ringkasan biography yang cukup menjelaskan secara singkat tentang orang ini,” kata Mz Anthony.

Protipnya, jangan sampai bagian personality ini tampil kurang mencolok dalam template Anda. Kalau di Tinder kita cuma sekadar miss out jodoh karena gagal paham kepribadian users, dalam membuat user persona Anda bisa kehilangan prospek dan leads karena kesalahan yang sama.

  • Goals

“Goals ini salah satu hal yang terpenting dalam membuat user persona, karena di sini kita bisa melihat tujuan dari sang user ini untuk apa, yang membuat orang ini merasa puas atau senang itu apa, dan, yang terpenting, apa yang membuat mereka menggunakan jasa atau produk yang kita tawarkan,” kata Anthony.

Ibarat hubungan, ketika udah bicara tentang tujuan hidup, berarti kita udah mulai akrab. Dan itulah tujuan menyertakan goals dalam user persona template Anda. Jadi kita nggak cuma sekedar tau nama, usia, penampilan, dan kepribadian seperti yang kita bahas sebelumnya, tapi kita juga tau what they actually feel about us and our products. 

Tapi bicara tentang perasaan bukan berarti Anda mengarang lirik lagu emo atau curcol di sini. Tentunya hal ini harus berdasarkan riset kualitatif yang Anda lakukan sebelumnya dan relevan dengan produk yang ditawarkan. 

Misalnya, kalau Anda menjual smartphone, motivasi persona yang disertakan di sini bisa jadi seperti “saya ingin tampil keren di hadapan teman-teman karena pakai gadget keluaran terbaru” atau “saya ingin lebih produktif dengan bantuan ponsel yang canggih.” Kalau Anda tiba-tiba menuliskan “saya ingin sukses investasi dalam jangka waktu lima tahun,” walau pernyataan itu memang didapatkan dari hasil riset, jadinya tetap nggak nyambung dengan produk yang Anda tawarkan. 

  • Pain Points

“Sakitnya tuh di sini,” kata Cita Citata. Ya, itu memang bukan quotes dari Mz Anthony, tapi dia bilang kok kalau pain points itu hal yang wajib ada dalam user persona template Anda:

“Di sini kita melihat apa saja yang membuat sang user persona ini kesusahan dalam mencapai Goals-nya. Dari pain points ini, kita bisa membuat solusi yang dibutuhkan agar mereka mau menggunakan atau membeli produk dan jasa kita,” katanya.

Goals dan pain points ini memang udah seperti dua sisi koin yang nggak bisa dipisahkan sih. Kalau menjelaskan goals aja tanpa menggambarkan kesulitan yang dialami, kita nggak bisa mengevaluasi. Dan kalau menjelaskan pain points aja tanpa menyertakan tujuan, kita nggak akan bisa melihat konteks dari permasalahan. 

Karena itu, supaya lebih akrab dengan users Anda, jangan lupa sertakan bagian ini juga dalam template. Contohnya, untuk permasalahan “ingin lebih produktif” yang kami sebutkan di atas, salah satu pain point yang dirasakan oleh users mungkin berupa “baterai smartphone yang ada di pasaran saat ini nggak cukup untuk digunakan dalam sehari kerja.” Dengan itu, Anda bisa melihat kalau mayoritas pengguna membutuhkan gadget yang bisa mendukung productivity dan digunakan dalam waktu yang panjang.

Contoh user persona template yang udah menyertakan goals, motivation, pain points, dan lain-lain,

sebagai pelengkap data dirinya.
Image Source

Dengan kelima hal yang disebutkan Mz Anthony tadi, kurang lebih user persona yang Anda buat bisa berupa seperti gambar di atas. Seperti yang bisa kita lihat, di bagian kiri terdapat picture dan basic information, dilanjutkan dengan deskripsi personality, kemudian di sebelah kanan terdapat goals dan pain points yang dialami (dalam kasus ini disebut sebagai “frustrations”).

Dalam contoh ini, user persona juga menyertakan cara yang disukai pengguna untuk berhubungan dengan brand dan brand apa saja yang ia gunakan. Seperti yang kami sebutkan sebelumnya, hal apa aja yang disertakan bisa beragam antara satu template dan lainnya, sesuai kebutuhan. Tapi kelima hal yang kami sebutkan tadi wajib ada deh dalam template yang Anda buat, terutama kalau Anda baru akan memulai. 

At least, kelima hal ini bisa jadi fondasi awal untuk kemudian Anda eksplorasi dalam membuat user persona yang bisa tailored to your needs di masa depan. Tapi kalau Anda nggak mau menunggu masa depan, nggak perlu beli mesin waktu karena Anda bisa langsung ceritakan kebutuhan bisnisnya pada kami, dan kami siap bantu bikin brand Anda lebih standout dengan segudang tools yang kami punya, termasuk user persona. Just drop us a line and we’ll get in touch ASAP!

 

Credits:

Resource:

Anthony Atmadja, UX Designer Definite

Writer:

Rinaldy Sofwan

Freebies E-Book

Check out our free e-book on
easy ways to redesign your website
Download Now

Interested in what we do?

Let’s have a talk, and see how together we can take your brand to the next level.

Contact us




    Hi there!

    Need a partner for your brand’s digital endeavor?

    Contact Us
    Whatsappp Sharing