Definite

contact

Case Study · Expertise · Featured · Productivity · What We Do

Hal Yang Harus Diperhatikan saat Bikin Google Analytics Custom Reports

Written by Rinaldy Sofwan, 16 December 2020

Mantengin segitu banyaknya data dari Google Analytics memang bisa bikin kepala pusing banget, apalagi kalau nggak tahu mana yang harus diperhatikan. Jawaban dari masalah itu bisa jadi adalah bikin custom report.

Dalam mengamati Google Analytics, Anda pasti akan dihadapkan dengan angka dan data-data yang jumlahnya nggak sedikit. And most of the time, hal tersebut malah bikin mata Anda jadi sliwer dan sakit kepala, ya kan? he he he… (Nggak usah denial 🙂)

Nah, Anda bisa meminimalisir hal tersebut dengan membuat Google Analytics Custom Reports. Supaya lebih gampang, kami punya beberapa hal penting yang mesti diperhatikan waktu Anda bikin custom reports versi Anda sendiri,nih.

But before we jump up to that point, biar kami jelasin dulu tentang apa yang dimaksud dengan Google Analytics custom reports, barengan sama Head of Analytics kami, Mas (bukan Ahmad) Dhani. Monggo Mas!

Apa itu Google Analytics Custom Report?

“Custom report adalah laporan yang dibuat berdasarkan dimensions dan metrics yang kita pilih sendiri. Custom report ini bertujuan untuk jenis report seperti apa yang ingin kita tampilkan,” kata Mas Dhani.

Yang dimaksud dimensions adalah atribut dari data yang Anda gunakan. Contohnya di antara lain country, product, source, dan page. Sementara metrics itu adalah ukuran kuantitatif dari atribut tersebut, seperti page views, average price, unique purchases, dan average order value. Semua report di Google Analytics basically terdiri dari dua komponen tersebut. Contoh paling sederhananya kayak begini:

Source: Google Analytics Help Page

Nah, Google Analytics custom report bisa berisi jauh lebih banyak data dan disesuaikan dengan kebutuhan kita masing-masing. Itu yang bikin tool ini jadi powerful banget di tangan orang yang tepat. 

Keuntungan Pakai Google Analytics Custom Report?

Ibaratnya begini, bayangkan Anda di sebuah restoran dan disajikan lembar menu segede gaban yang berisi banyak banget pilihan. Jangankan pilih makanan, Anda pasti juga bingung harus lihat bagian mana dulu dari menu tersebut. Untungnya, Anda sudah nyewa asisten gizi yang sudah tahu betul seperti apa selera dan bagaimana kondisi kesehatan Anda sehingga proses pemilihan makanan jadi lebih gampang.

Nah, custom report ini seperti asisten itu. Supaya tahu menu makanan mana saja yang paling pas, Anda harus jelasin dulu makanan apa yang Anda suka dan kebutuhan gizi  yang dibutuhkan kan? Sama halnya, kita harus tau dan konfigurasi dulu report seperti apa yang cocok untuk masing-masing case. Kalau itu sudah bisa dilakukan, data berharga yang Anda dapat dari Google Analytics bisa jadi senjata yang ampuh banget untuk bikin kerjaan lebih efektif dan efisien.

“Keuntungan membuat Google Analytics custom report adalah kita dapat melihat data yang ingin kita gali lebih dalam insights-nya. Data tersebut sudah tersedia untuk specific campaign dan specific dimension and metrics yang sudah kita set up, jadi tanpa harus menggali lagi data yang ingin kita analisis, kita sudah dapat melihat data tersebut. Intinya sih akan less time-consuming,” lanjut Mas Dhani.

Apa Aja Yang Harus Diperhatikan?

Nah setelah kita on the same page berkat penjelasan singkat Mas Dhani, sekarang hal penting yang kami janjikan tadi bisa lebih berguna buat Anda yang belum pernah dengar atau sudah lama nggak berkutat dengan dunia analytics sehingga butuh refresh. Ya kan? Saatnya kita ke poin yang pertama:

Jangan Salah Data

Yes, hal pertama yang menurut Mas Dhani perlu diperhatikan adalah suatu common mistake yang biasa dilakukan web analysts saat membuat Google Analytics Custom Report. Kita harus pikirkan baik-baik saat menentukan jenis data yang ingin ditampilkan beserta dimension dan metrics-nya, jangan sampai salah. 

“Seringkali kita sebagai analis kebingungan untuk menentukan jenis data yang ingin ditampilkan, sampai pada akhirnya kita kurang tepat ketika melakukan konfigurasi custom report di Google Analytics,” kata Dhani.

Jangan sampai salah masukin data yang diinginkan di Google Analytics Custom Report. Bisa-bisa malah bikin tambah pusing, dan bisnis jadi nggak cuan nanti.

Kesalahan ini bisa bikin hasil analisis nggak sesuai dengan ekspektasi, sambung beliao. Lalu gimana cara menentukan data yang tepat untuk masing-masing proyek? Kalau balik lagi ke analogi restoran tadi, untuk tau makanan kesukaan dan kondisi kesehatan ya hal pertama adalah tanya diri sendiri (supaya tau kondisi kesehatan sebaiknya cek juga ke dokter, more on this later). 

Setiap bisnis dan project akan punya kebutuhan yang berbeda-beda. Misalnya, saat perusahaan teknologi Anda baru launching produk baru di website, Anda akan ingin lihat dari device mana saja website Anda diakses untuk lihat preferensi gadget audiens Anda; dari mana saja mereka datang untuk tau seberapa efektif marketing campaign Anda; dst. Lalu bagaimana dengan restoran yang baru buka cabang? Tentunya insight yang dibutuhkan beda lagi, kayak mencari tau behaviour audiens di wilayah sekitar, tren dalam food & beverage yang sedang berjalan di sana, peluang yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan restorannya, dan lain lain.

Jadi mulailah tanya diri (dan konsultan atau pakar, tentunya, sama seperti kita konsultasi kesehatan dengan dokter) insights apa saja yang Anda butuhkan untuk skenario yang sedang Anda jalani. Dari situ, Anda bisa mulai tentukan informasi apa aja untuk dikonfigurasi di Google Analytics custom report Anda. Tapi se-nggak-nya, setiap laporan mesti punya data yang akan dijelasin sama Mas Dhani berikutnya ini.

Rekomendasi Dimensions dan Metrics Dhani

“Pilih dimensions dan metrics yang paling useful dan merepresentasikan data yang ingin ditampilkan dalam sebuah project atau campaign seperti audience metrics, acquisition metrics, dan behavioral metrics, kata Mas Dhani. Kenapa Ketiga metrics tersebut harus ada? Karena ketiga hal itu bisa ngasih gambaran utuh tentang apa yang terjadi di platform Anda.

Mas Dhani lanjut jelasin, audience metrics bisa ngebantu kita melihat “seperti apa wujud audiens dari pengunjung platform kita.” Maksudnya, lewat Google Analytics Custom Report kita bisa lihat berapa sessions yang berlangsung, berapa users yang berkunjung, berapa kali suatu halaman dikunjungi, berapa halaman yang dikunjungi di setiap session, berapa lama session berlangsung, dan lain-lain.

Biasanya KPI sering banget ditentukan dari data-data ini, karena kita bisa lihat jelas gimana website kita perform. Tapi sebenarnya, untuk melihat gambaran lebih utuh ya kita perlu dua metrics lainnya yang tadi sudah disebutkan. 

Metrics set kedua yang disebut Mas Dhani adalah Acquisition metrics. Beliao jelasin, yang satu ini lebih ke bagaimana mereka datang ke platform kita. Misalnya, beberapa users mungkin search di Google dan menemukan bisnis Anda di halaman pertama. Sementara users lainnya mungkin menemukan brand Anda dari aktivitas di media sosial dan klik call-to-action yang diselipkan di sana. 

Dari manapun user Anda datang, data yang Anda kumpulkan dari sini bisa ngasih gambaran aktivitas marketing mana yang berjalan lancar dan mana yang bermasalah, sehingga perencanaan Anda ke depannya bisa disesuaikan dengan keadaan terkini perusahaan.

Data dari behavioral metrics bisa membantu buat nge-develop UX di platform Anda juga, lho!

“Sementara behavioral metrics akan berisi interaksi seperti apa aja yang mereka lakukan di dalam platform kita,” kata Dhani. 

Misalnya Anda bisa lihat perjalanan yang ditempuh sama users saat berkunjung ke website Anda. Dari halaman pertama sampai yang terakhir sebelum akhirnya dia ninggalin situs. Data semacam ini berguna untuk ningkatin user experience platform ke depannya. Nah kalau mau tau gimana caranya buat ningkatin performa UX, Anda bisa baca-baca di artikel kami yang ngebahas perkara itu, tuh!

Report Seperti Apa yang Anda Butuhkan Sekarang?

Di luar semua data itu, Anda masih bisa gali lebih banyak data untuk disesuaikan dengan kebutuhan. Seperti yang udah kami bilang, setiap skenario bisnis dan project akan punya konfigurasi Google Analytics custom reports-nya masing-masing, dan Anda adalah orang yang paling tau jawabannya. 

Well, sebetulnya nggak harus berhenti sampai yang kami jelasin. Anda masih punya banyak ruang buat eksplorasi dengan data yang dihasilin Google. Buat melengkapi tema restoran kita, coba lihat contoh kasus Domino’s Pizza deh. Buat chain internasional sebesar itu, butuh lebih banyak processing power buat ngehasilin data yang dihasilkan di tiap negara. Karena itu, restoran yang berkantor pusat di Inggris ini bekerja sama dengan authorized reseller Google Analytics, DBI (Digital Business Intelligence). 

Mereka memanfaatkan cross-device tracking dari Google Analytics 360 buat ngegabungin marketing measurement, insights yang holistik, dan actionability yang efisien ke dalam realitas sehari-hari. Dengan ini, tim marketing Domino’s bisa dapet gambaran lebih baik tentang behavior pelanggannya, berakibat langsung pada pemangkasan biaya iklan dan operasional sebesar 80% dari tahun ke tahun.

Domino’s dan DBI juga pakai Tag Manager 360 untuk mempercepat pembuatan, peninjauan dan publikasi tag di website dan e-commerce mereka dari yang seharusnya berbulan-bulan jadi hanya hitungan hari. Hasilnya? Implementasi on-site targeting tool yang berujung peningkatan penghasilan bulanan hingga 6%.

Terakhir, mereka menggunakan Google BigQuery yang bisa memproses sekian gigabyte per detik buat mengolah banyaknya data pelanggan Domino’s dengan cepat, efisien, dan terjangkau. Fitur export ke BigQuery di Google Analytics 360 ngebantu restoran tersebut untuk ngelakuin proses ini dengan mudah dari hari ke hari. Menghasilkan gambaran soal bagaimana marketing efforts mempengaruhi konsumen, langkah ini ngebantu Domino’s ngambil keputusan lebih baik dalam nentuin budget.

Dari situ aja udah keliatan bahwa analisis data itu punya pengaruh yang besar banget buat sebuah bisnis, yakhan. Masa iya Anda nggak tertarik untuk melakukan hal serupa? Atau malah udah tau report seperti apa yang Anda butuhkan? Kalau udah tau gambaran apa yang diperlukan tapi masih belum jelas gimana cara menerapkannya, or maybe kurang resources di perusahaan saat ini, kita ngobrol-ngobrol santai aja dulu yuk, siapa tau kami bisa jadi “dokter” sekaligus “asisten gizi” untuk bisnis Anda. 

Karena menggali dan mengolah data untuk ngebantu brand cuan lebih banyak udah jadi makanan kami sehari-hari. Apakah brand Anda bakal jadi yang selanjutnya? Aku dan Mas Dhani sih pasti bilang yes!

Credits:

Resource:

Ramdhani Rakhmat, Head of Analytics

Writer:

Rinaldy Sofwan

Freebies E-Book

Check out our free e-book on
easy ways to redesign your website
Download Now

Interested in what we do?

Let’s have a talk, and see how together we can take your brand to the next level.

Contact us




    Hi there!

    Need a partner for your brand’s digital endeavor?

    Contact Us
    Whatsappp Sharing