Definite

contact

Case Study · Featured · UX · What We Do

User Experience Research 101

Written by Bimo Gadabima, 08 February 2021

User Experience research adalah salah satu proses paling riweuh dalam web development yang nggak boleh dilewatin. Nah, supaya bisa lebih efisien, Anda bisa lakukan cara-cara berikut nih.

User Experience (UX) research itu penting dan wajib dilakukan supaya produk Anda nantinya bisa sesuai dengan keinginan, kebutuhan dan juga behavior dari target audiens Anda. Karena sekeren apapun design web/app Anda, bakalan percuma kalau hal tersebut nggak ‘easy-to-use’, yang ujung-ujungnya malah jadi ngerepotin atau bikin bingung user-nya.

Masalahnya, untuk melakukan UX research ini nggak semudah membalik telapak tangan, Ferguso… Malah bisa dibilang, ini adalah salah satu proses yang cukup tricky dalam pembuatan atau pengembangan website Anda, karena membutuhkan teknik observasi, task analysis, dan metodologi feedbacks lainnya.

Udah gitu, karena si UX ini ibaratnya adalah representasi dari calon penggunanya, dalam prosesnya pun sang UX researcher/designer cenderung lebih mengedepankan peran manusia sebagai pengguna akhir dari web yang (lagi) dibikin, ketimbang perkara digitalnya.

Kenapa begitu? Karena proses ini bertujuan untuk memudahkan dan meningkatkan interaksi pengunjung website, mulai dari saat dia ngebuka situsnya sampai dengan tindakan akhir yang diharapkan oleh si pemilik website, yaitu Anda sendiri. Makanya, walaupun proses ini terbilang cukup riweuh, jangan sampai di-skip waktu Anda bikin website, yes.

Kalau menurut UX designer kami, Mz Anthony Atmadja, “yang paling diperlukan dalam proses ini adalah rasa ingin tau dan rasa ingin membuktikan suatu hipotesis yang berhubungan dengan objective-nya. UX researcher juga harus nyari tau seluk-beluk dari target user tersebut. Jadi dia harus mengumpulkan data-data dari user dan mengolahnya hingga bisa dijadikan sebuah strategi untuk memberikan solusi dari masalah-masalah yang dihadapi oleh mereka.”

Nah, supaya bisa melakukan UX research dengan cara yang efektif dan efisien, ada beberapa metode yang biasanya dilakukan oleh Mz Anthony, nih.

UX research bisa dilakukan dengan tiga metode berbeda. Mana yang paling cocok dengan kebutuhan Anda?

  • Quantitative Research

Basically, ini adalah riset eksplorasi yang digunakan untuk mengukur masalah dengan cara menghasilkan data numerik atau data yang dapat diubah menjadi statistik yang berguna untuk membantu proses pembuatan web nantinya.

Metode untuk pengumpulan datanya juga bisa dalam berbagai bentuk, kayak online surveys, paper surveys, mobile and kiosk surveys, longitudinal studies, website interceptors, polling online, pengamatan sistematis, atau bisa juga menggunakan A/B testing.

Nantinya, data kuantitatif tersebut tetap harus diimbangi dengan berbagai insights dari data kualitatif yang didapat dari metode riset lainnya, seperti usability testing dan lain-lain.

  • Qualitative Research

Kalau yang satu ini adalah penelitian langsung terhadap user behavior berdasarkan sebuah observasi. Metode kualitatif lebih sering digunakan untuk memahami sifat dan perilaku seseorang terhadap suatu hal (dalam konteks ini tentunya mengenai sifat dan perilaku mereka atas web Anda).

Metode ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, termasuk observasi kontekstual, studi etnografi, wawancara, studi lapangan, dan juga usability testing yang dimoderasi.

  • Mixed Method Research

Sesuai dengan namanya, metode yang satu ini menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif dengan tujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap tentang topik atau permasalahan yang lagi di-breakdown.

Contohnya ketika UX researcher melakukan riset dengan menggabungkan interview dan pembagian survey mengenai masalah yang dihadapi oleh user pada sebuah web dalam satu sesi secara bersamaan. Atau ketika UX researcher tersebut melibatkan orang ketiga (semacam UX experts) buat ngelengkapin penelitian kualitatif dengan metrik kuantitatif.

Contoh pertanyaan dalam metode ini biasanya seperti, “Bagaimana user saat ini menggunakan fitur ‘save to wishlist’?”. Nah, pertanyaan tersebut bertujuan untuk menggali behavioral data dari suatu produk dan menggabungkannya dengan apa yang sebenarnya memotivasi user untuk melakukannya.

Dengan menggunakan metode ini, artinya si UX researcher nggak membatasi diri pada riset kualitatif atau kuantitatif aja, sehingga ia bisa mendapatkan berbagai manfaat dari cara eksplorasi dan pengukuran lainnya.

Meskipun ada tiga pilihan metode yang bisa digunakan untuk melakukan UX research seperti di atas, akan lebih baik kalau si UX researcher lebih menekankan insights yang didapat melalui metode kualitatif, sekalipun ia udah dapet data-data yang bisa digunakan dari metode kuantitatif.

Why is that so? Karena, metode kualitatif bisa memberikan gambaran permasalahan yang dihadapi oleh user Anda secara detail, sehingga Anda bisa segera mencari solusi atas hal-hal tersebut dan memberikan “experience” yang lebih baik untuk mereka, tanpa harus mengeluarkan biaya lebih banyak.

Dengan kata lain, bakalan jauh lebih hemat biaya kalau Anda menemukan dan (segera) memperbaiki masalah-masalah yang dihadapi user di fase designing, dibanding melakukannya ketika web Anda udah established.

Data dari qualitative research emang penting. Tapi detail-detail dari hasil qualitative research memegang peranan penting buat ngasih solusi sesuai kebutuhan user.

Pun demikian, jenis riset yang bisa (atau harus) Anda gunakan juga tergantung pada kebutuhan, sistem, timeline, serta jenis web atau aplikasi yang akan dibuat/dikembangkan. Untuk mempermudah, Anda bisa lihat beberapa contoh jenis UX research yang biasa Mz Anthony n’ team lakukan per- fasenya dalam sebuah proyek.

  • Card sorting (Mixed Method Research)

Metode yang satu ini memperkenankan user untuk mengelompokan dan mengurutkan informasi yang terdapat dalam web Anda ke dalam satuan struktur yang lebih logis, serta mengarahkan navigasi atas susunan informasi yang terdapat dalam web.

Contohnya kalau ternyata flow dalam web Anda ketika melakukan registrasi sampai ke tahap purchasing dirasa terlalu mondar-mandir. Dengan metode ini, user bisa memberikan gambaran flow yang lebih baik, seperti yang mereka inginkan.

Cara ini juga terbukti ampuh buat ngebantu UX designer untuk memastikan bahwa struktur web Anda sesuai dengan kebiasaan dan cara berpikir para user tersebut.

  • Contextual Interviews (Qualitative Method Research)

Dari metode wawancara ini UX researcher bisa mengobservasi user berdasarkan kebiasaan-kebiasaan mereka saat mengoperasikan sebuah web in real life. Hal ini juga akan memberikan Anda pemahaman yang lebih baik tentang cara kerja dari user tersebut terhadap sebuah web.

  • First Click Testing (Qualitative Method Research)

Ini adalah metode pengujian yang berfokus pada navigasi, dimana UX researcher bisa melihat hal apa yang pertama kali diklik oleh responden pada interface untuk menyelesaikan tugas yang dimaksudkan. Bukan cuma di web yang udah established aja, metode ini juga bisa dilakukan di web yang masih prototype, maupun yang masih berupa wireframe.

  • Focus Groups (Qualitative Method Research)

Metode berupa diskusi yang dimoderasi dengan sekelompok user, yang memungkinkan UX researcher untuk mendapatkan berbagai insights mengenai sikap, ide, dan juga keinginan dari user.

Metode yang satu ini memungkinkan UX researcher mendapatkan berbagai insights langsung dari sekelompok user.

  • Heuristic Evaluation/Expert Review (Mixed Method Research)

Metode ini dilakukan oleh sekelompok usability experts, dimana mereka bakalan mengevaluasi web Anda berdasarkan daftar pedoman yang udah ditetapkan.

  • Interviews (Qualitative Method Research)

Metode UX research yang satu ini dilakukan dengan diskusi one-on-one bersama user untuk mengetahui gambaran umum tentang bagaimana mereka beroperasi dalam suatu web. Dari situ, UX researcher bisa mendapatkan beberapa informasi yang mendetail tentang sikap, keinginan, kebutuhan, serta pengalaman mereka.

  • Parallel Design (Quantitative Method Research)

Ini adalah metodologi yang melibatkan beberapa UX designer dengan satu tujuan yang sama, dimana mereka melakukan proses designing dalam waktu yang bersamaan, namun dilakukan secara terpisah (independen).

Maksud dan tujuan dari dilakukannya riset ini adalah untuk menggabungkan aspek terbaik yang dibuat oleh tiap-tiap designer sebagai solusi akhir dari berbagai permasalahan yang dihadapi oleh user terhadap web Anda.

  • Personas (Mixed Method Research)

Metode ini dilakukan dengan cara membuat fictional-character profile yang dapat merepresentasikan seorang user. Mungkin karakter dalam profile tersebut memang bukan sosok nyata, tapi data yang digunakan untuk menggambarkannya, mulai dari keinginan, kebutuhan, sampai behavior atau kebiasaannya, harus berdasarkan data-data yang didapat dari hasil riset yang dilakukan sebelumnya.

Tujuannya? Udah pasti untuk mengetahui lebih detail tentang experience seperti apa yang sebetulnya diinginkan oleh user dari web Anda.

  • Prototyping (Quantitative Method Research)

Pada metode yang satu ini, UX designer dan timnya dapat melakukan eksplorasi ide dengan cara membuat “mockupweb Anda, sebelum akhirnya mereka terapkan ke dalam web yang akan di-establish. Prototype ini juga bisa dibuat dengan menggunakan kerangka atau maket kertas, sampai dengan interactive HTML.

  • Surveys (Quantitative Method Research)

Kalau yang satu ini pasti udah lumrah di telinga Anda. Ini adalah metode UX research dengan cara mengajukan serangkaian pertanyaan kepada beberapa user dari web Anda, sehingga si UX researcher bisa menggali informasi dan mempelajari kebiasaan mereka.

Hasil dari survey akan memberikan gambaran secara general terkait suatu masalah yang dihadapi oleh user.

  • System Usability Scale (SUS) (Quantitative Method Research)

SUS menyediakan alat yang bisa diandalkan untuk mengukur kegunaan sebuah web, yang berisikan 10 item kuesioner dengan lima pilihan jawaban (dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju) untuk respondennya.

Alat bantu yang dibuat oleh John Brooke tahun 1986 ini memperkenankan UX researcher untuk melakukan evaluasi terhadap berbagai macam produk dan layanan, termasuk hardware, software, mobile devices, website dan juga aplikasi.

  • Task Analysis (Qualitative Method Research)

Metode ini memberikan berbagai pembelajaran tentang tujuan user, termasuk apa yang ingin mereka lakukan di web Anda, sehingga dapat membantu UX researcher dalam memahami kegiatan yang akan dilakukan oleh user di web tersebut.

  • Usability Testing (Quantitative Method Research)

Dengan melakukan usability testing, UX researcher dapat mengidentifikasi berbagai keluhan dan permasalahan yang dialami oleh user terhadap web Anda secara langsung melalui sesi one-on-one, dimana para user akan melakukan sebuah kegiatan di web yang sedang mereka pelajari tersebut.

Usability testing merupakan salah satu cara paling ampuh buat mengidentifikasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh user.

  • Study Cases (Qualitative Method Research)

Dalam metode ini, berikanlah deskripsi atau arahan tentang bagaimana user dapat menggunakan fitur tertentu di web Anda. Dengan begitu, UX researcher bisa mendapatkan gambaran secara detail tentang bagaimana user berinteraksi dengan web Anda, termasuk langkah-langkah yang mereka lakukan untuk menyelesaikan setiap task yang tersedia dalam sebuah halaman atau fitur.

Metode-metode di atas juga digunakan oleh Mz Anthony waktu dia melakukan UX research untuk nge-revamp website eCommerce dari salah satu klien favoritnya di Definite, “di situ saya dan tim telah melakukan market research sebagai baseline kebutuhan project tersebut. Kita melakukan user research pertama, dengan mengundang beberapa narasumber ASN untuk di-interview, karena pengguna eCommerce tersebut marketnya terbilang cukup niche.”

Setelah itu, pada tahap UX research kedua dilanjutkan dengan cara mem-verifikasi prototype. “Pada user testing kedua kita menemukan sebuah insight lagi yang berbeda dari user research pertama yang dimana setelah itu kita kembali melakukan iterasi based on feedback user research kedua,” lanjut beliao.

Long story-short, setelah melalui langkah tersebut dan benar-benar memahami apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh user, baru deh semuanya dituangkan ke dalam web yang akan di-finalize dan di-establish.

Itu adalah beberapa metode yang biasanya kami lakukan dalam proses UX research. Tapi kalau Anda mau melakukannya dengan cara lain, kayak yang disampaikan oleh Nielsen Norman Group, salah satu leaders di bidang UX, Anda bisa lihat di chart ini, nih.

Salah satu cheat sheet yang paling sering digunakan dalam proses UX research.

Ya, kurang lebih begitulah tahapan-tahapan yang bisa dilakukan untuk proses UX research. And yes, we’ve got to admit it bahwa proses ini memang cukup ngejelimet. But, what can we say? Karena pada akhirnya harus disadari bahwa User Experience research dilakukan buat menghindari careless design (yang bisa merugikan Anda secara biaya di kemudian hari) dan lebih berprioritas pada thoughtful design.

Kami pun selalu memandang bahwa UX research adalah salah satu hal terpenting yang harus dilakukan dalam proses pembuatan sebuah web, supaya hasilnya nggak mengecewakan, terutama untuk user-nya. Nah, ketimbang Anda melakukan UX research sendiri (dengan segala proses dan metodenya yang udah kita sebutin di atas tuh), mending kerjain bareng kami aja supaya bisa lebih ringkes, yakhan!

 

Credits:

Resource:

Anthony Atmadja, UX Designer Definite

Writer:

Bimo Gadabima

Freebies E-Book

Check out our free e-book on
easy ways to redesign your website
Download Now

Interested in what we do?

Let’s have a talk, and see how together we can take your brand to the next level.

Contact us




    Hi there!

    Need a partner for your brand’s digital endeavor?

    Contact Us
    Whatsappp Sharing